MAKAM Syekh Muhammad Ali atau makam Petta Bulu Matanre, masyarakat setempat memanggilnya Lapassari dan Andi Pawelori yang terletak di puncak Desa Mattabulu tepatnya di Dusun Cirowali, makam ini telah menjadi salah satu situs budaya yang ada di Kabupaten Soppeng dan di situs inilah menjadi tempat puncak acara Pattaungeng di Desa Mattabulu.

Dahulu di desa ini terdapat sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Bulu Matanre, benda-benda yang menyimbolkan sebuah kerajaan di Bulu Matanre dahulunya hanya sebuah benda pusaka yang sangat di sakralkan seperti badik atau keris serta panji-panji. Kerajaan yang makmur, dikarenakan mempunyai sumber mata air atau sungai yang besar. Dahulu kerajaan yang mempunyai sumber mata air dan berada di dekat aliran sungai besar merupakan simbol tirta  kerajaan yang dapat memakmuran rakyatnya.

Dalam situs ini terdapat makam Petta Bulu Matanre, pemimpin kerajaan Bulu Matanre. Petta berarti orang yang dituakan, pemangku adat serta sebagai pemimpin hampir sama halnya dengan nama Matowa.

Dari situs Bulu Matanre yang bersejarah inilah yang melahirkan beberapa adat istiadat serta kebudayaan pada masyarakat setempat di Desa Mattabulu yang menarik di karenakan proses-proses ini masih tetap berlandaskan agama islam tanpa mengesampingkan kebudayaan dan adat istiadatnya karena semua di mulai dari niat dan keyakinan serta berlandaskan dengan rasa terima kasih kepada sang pencipta akan hasil kebun yang dapat memakmurkan masyarakat desa,  adapun adat istiadat yang sering dilakukan ialah melakukan siarah ke makam Petta Bulu Matanre, pesiarah biasanya berasal dari keturunan Petta Bulu Matanre, serta kebiasaan orang tua yang  dari dulu sering bersiarah sehingga menjadi turun temurun ke anak cucunya. Bukan hanya dari keturunan Petta Bulu Matanre yang sering bersiarah, akan tetapi banyak pula  orang dari luar daerah yang sering memimpikan atau di beri petunjuk untuk bersiarah di makam ini.

Selain itu ada juga kebudayaan serta adat istiadat di desa ini yang amat panjang yang di lakukan satu kali dalam setahun yang di sebut dengan ritual Pattaungeng, ritual tersebut dilakukan secara bertahap dan rangkaian kegiatan yang berurutan serta tidak boleh tertukar dari urutan-urutan yang sudah ada, kegiatan ini saling  berkesinambungan satu sama lain, mulai dari kegiatan tahap awal sampai akhir, kegiatan ini di pimpin oleh pemangku adat atau Sanro Wanua (orang pintar yang mengerti tentang keadaan desa) serta pemegang kunci makam  Petta Bulu Matanre yang di ikuti oleh seluruh masyarakat setempat, dalam rangkaian kegiatan tersebut di lakukan selama satu bulan penuh dan kegiatan ini di lakukan diantara Bulan 9 dan 10.

Mattudang-tudang ialah tahapan pertama dalam ritual Pattaungeng tersebut, dalam tahapan pertama ritual Pattaungeng ini seluruh warga desa, sanro wanua serta pemegang kunci makam Petta bulue hadir duduk berkumpul untuk merembukkan mengenai hal apa saja yang akan di lakukan pada tahun ini, mulai dari tanaman yang layak ditanam untuk tahun ini agar tanaman tersebut dapat memakmuran kehidupan masyarakat setempat, serta membicarakan tentang pembersihan Ulu Salo (sumber air  yang menjadi sungai yang ada di desa mattabulu yang mengaliri perairan di Soppeng). Serta pembersihan mata air yang berada di sekitar kerajaaan bulu matanre yang menjadi situs saat ini, sebab menurut pemegang kunci makam Petta Bulu Matanre sumber air ini menjadi gerbang kerajaan Bulu matanre pada masanya.

Massampo wanua atau lebih sering di sebut dengan mattolabala yaitu tahapan kedua yang di percayai untuk melindungi desa dari wabah penyakit atau musibah yang di lakukan di 4 penjuru desa atau sering juga di artikan sebagai eppa sulapa (4 sudut atau 4 unsur yaitu air, api. tanah dan angin), mengapa hal ini menjadi penting di karenakan kita di ciptakan dari tanah pasti ada juga ciptaan tuhan yang di ciptakan dari 4 unsur lainnya yang tidak terlihat.

Setelah melakukan rangkaian kegiatan mattolabala dilanjutkanlah dengan kegiatan Mabbeppa pattaungeng (membuat kue tahunan) tahapan inilah yang membuat semua masyarakat berkumpul lebih banyak untuk membuat kue serta membuat masakan untuk para masyarakat yang berkumpul dalam rangkaian acara adat ini. Uniknya ketika acara ini berlangsung rumah rumah pasti kosong dan semua masyarakat berkumpul di suatu tempat yang ada di desa, kegiatan ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi.

Dilanjutkanlah dengan kegiatan akasiange yaitu memandikan orang orang yang pernah terjangkit penyakit agar tidak sakit lagi di sumber mata air yang berada di dekat situs Bulu matanre. Setalah semua rangkaian berakhir dilanjutkanlah dengan pattaungeng.

Pattaungeng / tudang sipulung inilah rangkaian terakhir atau puncak acara yang di lakukan di situs Bulu matanre yang menjadi cagar budaya yang ada di desa ini, setelah bersiarah dan mengirimkan doa kepada leluhur di makam Petta Bulu Matanre dan Tuan Lonrong,  dalam pattaungeng inilah terdapat banyak keunikan yang di lakukan antara lain  makan bersama dengan seluruh masyarakat desa mattabulu di situs bulu matanre.

Tidak hanya itu, keseruan pattaungeng ini juga di meriahkan dengan berbagai permainan rakyat serta kesenian tradisional. Adapun jenis – jenis permainan rakyat dan kesenian tradisional diantaranya ma gasingmallogo, mattojang, dan mappadendang serta oni–oni toriolo yang menjadi kesenian tradisional dan menjadi tanda bahwa acara pattaungeng telah di mulai dan untuk mengumpulkan warga desa serta sebagai kemeriahan puncak pattaungeng.

Teknologi tradisional pernah ada  di mattabulu yaitu menumbuk padi memakai lesung kayu yang memanjang yang berguna memisahkan kulit padi, dilakukan oleh perempuan dan tidak boleh dilakukan oleh laki laki, sekarang teknologi tradisional ini bertransisi menjadi kesenian tradisional yaitu mappadendang, selain tradisi mappadendang kesenian tradisional yang ada yaitu oni-oni toriolo atau bunyi-bunyian orang dulu yang masih di lestarikan sampai sekarang, oni-oni toriolo ini terdiri dari berbagai alat musik, seperti ; mandolin, gambus, serta goccang-goccang. Kesenian ini juga menjadi kegiatan rutin setiap minggu dan dilakukan semalam suntuk di Desa Mattabulu agar kesenian ini tetap terjaga untuk generasi kedepannya.

Itulah budaya dan keunikan yang terdapat di Desa mattabulu yang mempunyai sejarah serta identitas yang amat kuat, di tambah dengan objek pemajuan kebudayaan yang kaya serta adanya situs Bulu matanre yang juga menjadi cagar budaya dan ikon Desa mattabulu saat ini, selain itu desa mattabulu juga mempunyai lembaga adat yang siap untuk menjaga kebudayaan kesenian serta kearifan lokal yang ada di desa untuk menjadi aset kedepan kepada anak cucu mereka.

Mattabulu juga menjadi desa wisata yang terbukti dengan adanya wisata lembah cinta dan air terjun liu pangie yang sering di kunjungi oleh wisatawan lokal maupun wisatawan dari luar daerah. Adanya bumdes pada ati mattabulu yang juga menjadi ujung tombak pemajuan desa mattabulu dengan produksi kopi yang mempunyai aroma dan cita rasa khas Desa Mattabulu yang dapat bersaing. Terwujudnya ekonomi kreatif di desa ini dapat juga menjadi pewarisan untuk kemajuan desa kedepannya, itulah mengapa desa ini sangat mampu menjadi desa yang berperadaban serta berbudaya dan juga dapat menjadi desa milenial seiring perkembangan zaman yang tetap menjaga kearifan lokalnya.